April 30, 2020

Warisan Mama untuk Putri Alor

Desa Moru, Kecamatan Alor Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Suara angin pantai, berpacu dengan derak alat tenun dari belasan perempuan yang sedang menenun selembar kain. Beberapa lembar kain tenun dengan aneka motif warna cerah, digantung di bagian depan rumah yang adalah sebuah Rumah Tenun Moru yang berada di Desa Moru, Kecamatan Alor Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Suasana di sudut desa di Pulau Alor, siang itu, bagai surga kecil: indah, tenang, dan damai.

Seorang perempuan, Saina Besikari, asik memintal benang demi benang. Hari itu, dia akan menyelesaikan selembar tenun khas Alor. Umurnya tak lagi muda, 72 tahun, tapi menenun tetap dia lakukan, setiap hari. “Saya menggantungkan mata pencarian dari menenun sejak umur 17 tahun,” katanya. Tangannya terus bergerak, ke kiri dan kanan, bak penari piawai yang sudah paham betul gerakannya.

Di dekatnya, belasan perempuan juga asik memintal lembaran benang. Sesekali mereka bercakap-cakap, melepas penat, meningkahi suara derak alat tenun dan angin pantai. Desa Moru adalah pusat tenun Suku Kui. Di desa ini, tinggal para penenun yang mewarisi budaya Tenun Kui, secara turun temurun. Dari mama-mama, ke anak gadisnya, turun ke generasi ke tiga, ke empat, dan seterusnya, sampai sekarang.

Kerajinan Tenun Kui dimulai tahun 1619 Masehi. Dahulu, Kerajaan Kui menjadi salah satu pusat peradaban Pulau Alor. Desa Lerabaing menjadi tempat tinggal para penenun muslim Kerajaan Kui. Lerabaing kemudian pecah menjadi dua desa yaitu Desa Bombaru dan Desa Moru.

Di NTT, kain tenun tak sekadar busana sehari-hari. Kain ini mempunyai banyak fungsi dalam adat yaitu menjadi mas kawin, penghargaan pada upacara kematian, pembayar denda adat, alat tukar (uang), lambang strata sosial, penghargaan kepada tamu, dan untuk menolak bencana.

Begitu kentalnya tenun dengan ritual adat di NTT, maka tak heran kalau mayoritas perempuan di daerah ini bisa menenun. “Hampir semua mama-mama di Desa Moru bisa menenun,” kata Rahima Plaikara, Ketua Kelompok Tenun Desa Moru di Rumah Tenun Moru. Rumah Tenun Moru dibangun PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), sebagai bagian dari kepedulian sosial perusahaan terhadap pemberdayaan perempuan dan menjaga kelestarian tenun NTT.

Di Rumah Tenun ini, Mama Rahima mengumpulkan 15 penenun dari Desa Moru. Di tempat itu, seminggu sekali, mereka berkumpul untuk menenun bersamasama. “Baru 15 orang yang kami ajak walau ada ratusan ibu-ibu yang bisa menenun, karena ini baru percontohan pertama. Kami pilih yang paling bagus hasil tenunannya,” kata perempuan berusia 52 tahun yang sudah menenun lebih dari 35 tahun sebagai pekerjaan utamanya.

PT SMI tertarik membangun sebuah sentra tenun di Desa Moru agar para penenun mempunyai tempat untuk menenun bersama-sama. Selain itu, produk mereka bisa dijual di tempat ini sehingga tak lagi harus pergi ke pasar, menjual sendiri produknya. Kualitas tenun antara satu penenun dengan yang lainnya, juga dijaga agar tidak berbeda.

“Di Alor ada istilah Gunung dan Pantai. Orang pantai menenun, orang gunung membeli,” kata Rahima. Sejak dulu para penenun adalah muslimah dari Desa Lerabaing, sedangkan yang membutuhkan kain adat adalah orang-orang yang tinggal di pegunungan yang mayoritas beragama Kristen.

PT SMI membangun dua aula di lahan milik warga. Aula pertama untuk tempat para wanita menenun, dan yang kedua untuk tempat memajang kain tenun dan selendang khas Suku Kui. Kini, pembeli tak perlu lagi menunggu hari pasar untuk membeli tenun Alor. Mereka tinggal datang ke Rumah Tenun setiap hari dan bisa mendapatkan produk dengan harga dan kualitas yang sama.

PT SMI juga menyumbangkan mesin jahit untuk mengubah kain tenun menjadi barang-barang fashion seperti tas, dompet, pakaian, dan produk bernilai tambah lainnya. Tak berhenti sampai di situ, PT SMI juga menyediakan komputer jinjing atau laptop untuk transaksi online. Yayasan Insan Bumi Mandiri (IBM), mitra PT SMI dalam melaksanakan proyek pemberdayaan perempuan Alor ini, memberi pelatihan pembuatan desain, pengembangan produk, dan bagaimana memasarkan produk mereka, termasuk secara online.

Melalui penjualan online, diharapkan tenun Alor dikenal lebih luas baik, di Indonesia maupun di luar negeri. Dampaknya tentu saja berganda. Dengan makin dikenal, pembeli kain Alor akan berdatangan dari delapan penjuru mata angin. Efeknya, ekonomi masyarakat, terutama ibu-ibu pengrajin tenun akan meningkat. Wisatawan pun, baik lokal maupun mancanegara tertarik datang ke Alor. Kalau sudah begitu, dampak pamungkasnya adalah kelestarian kain tenun khas Alor bisa dijaga.

Rahima mengatakan Rumah Tenun yang dibangun PT SMI memang mengubah banyak hal. Dulu, jika hujan datang dan angin kencang, ibu-bu berhenti menenun karena biasanya mereka menenun di bawah pohon, di halaman rumah. Kini, hujan dan angin kencang tak lagi menjadi halangan. Mama-mama tetap bisa menenun di Rumah Tenun yang kokoh dan nyaman. “Penenun sekarang juga tidak perlu jauh-jauh ke pasar untuk menjual tenunnya. Cukup dipajang di aula, karena pembeli sudah tahu tempat ini. Mereka yang datang kesini,” katanya.

Selain di Alor Barat Daya (ABAD), sentra tenun juga ada di Kecamatan Alor Barat Laut (ABAL) dan Alor Timur. ABAD dan Alor Timur sama-sama memiliki khas tenun songket, sedangkan di ABAL berjenis tenun ikat. Tenun Kui Moru ABAD terbagi dua jenis. Yang digunakan perempuan disebut Sarung Tiga Lirang, sedangkan untuk laki-laki disebut Nawon Akan atau Sarung Selimut.

Tenun perempuan tidak boleh dipakai laki-laki, begitupun sebaliknya. Harga tenun Kui Moru ditentukan berdasarkan motifnya. Harga Nawon Akan ditentukan dari berapa banyak gambar tenunan bunga manusia atau bunga Mar yang ada di kain tenun tersebut. Nenek moyang Kui mendapatkan inspirasi bunga Mar dari pohon bambu yang sekilas mirip bentuk manusia.

Rahima menunjukkan selembar Nawon Akan dengan jumlah bunga Mar sebanyak 16 yang harganya Rp 900 ribu per lembar. Kain dengan bunga Mar 18, harganya satu juta rupiah dan yang berbunga 12 dihargai Rp 700 ribu. Jumlah bunga dalam kain juga menentukan nilai belis (tebusan) dalam pernikahan adat di Alor.

Untuk tenun perempuan, semakin banyak lirangnya maka semakin mahal harganya. Harga sarung tenun Kui Moru untuk perempuan antara Rp 800 ribu sampe Rp 1,6 juta. Satu lembar kain tenun dikerjakan kurang lebih satu bulan, sedangkan satu selendang bisa diselesaikan dalam satu minggu.

Dengan penuh ketekunan, para perempuan Moru memintal benang demi benang. Menorehkan motif dengan tangan cekatan. Setiap gerakan tangan mereka, mengingatkan pada mama dan nenek moyang, yang sudah menurunkan sebuah warisan tak ternilai harganya. Ada ketentuan di daerah ini yaitu hanya perempuan yang sudah datang bulan (haid) yang boleh menenun.

Mama-mama akan mempersiapkan anak gadisnya yang memasuki masa dewasa untuk mewarisi tenun Kui Moru. Indah, sarat makna, tetapi tentu saja, tidak mudah. Pinggang diikat, kaki ditekan. Terkadang air mata ikut menetes. “Tapi, kami bangga bisa menghasilkan karya yang menjadi nafkah buat keluarga. Anak-anak bisa jadi sarjana dari hasil penjualan kain tenun,” kata Rahima.

Penggiat tenun Alor yang tak bisa mewariskan tenunnya karena tak punya anak perempuan ini berpesan, “Jagalah warisan kami, agar menjadi kebanggaan bangsa.”

Related Posts